About Me

6.12.2013

Tersesat Di Jalan Yang Benar : Dilema Pemilihan Jurusan Mahasiswa IPB


Ada sebanyak 3.700 mahasiswa baru tiap tahunnya di IPB.  Mahasiswa-mahasiswa baru ini datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.  IPB sendiri menyebut mahasiswa-mahasiswa baru ini sebagai putra-puri terbaik bangsa.  Dari 10 orang yang mendaftar hanya satu yang diterima. Satu yang diterima itu adalah salah satu putra-putri terbaik bangsa. 
Untuk biaya masuk sendiri IPB tidak memberatkan calon-calon mahasiswanya. Ada banyak cara untuk membayar uang masuk tersebut. Satu dari empat mahasiswa IPB masuk tanpa membayar uang pangakal sama sekali. Mereka adalah calon mahasiwa yang mendapatkan beasiswa bidikmisi. Pemerintah sendiri lewat DIKTI menyediakan kouta sebanyak 1000 beassiwa untuk calon mahasiawa IPB.
Seorang calon mahasiswa IPB baru bisa dikatan sebagai mahasiswa IPB apabila telah memilki Kartu Tanda Mahasiswa (KTM). Selanjutnya mahasiswa ini baru sah sebagai mahasiwa IPB dan akan mendaptaakn pendidikan.  Tidak seperti Perguruan Tinggi lainnya, IPB sendiri pada tahun pertama menerapakan sisitim pendidikan yang disebut TPB (Tahun Persiapan Bersama). TPB adalah masa-masa persiapan untuk mahasiswa baru sebelum masuk  ke departemen atau fakultas. Mahasiswa IPB tidak disebut berdasarkan jurusannya masing-masing walaupun diterima di jurusan yang dipilih. Misalnya Mahasiswa baru yang diterima di jurusan Kedokteran Hewan tidaklah disebut Mahasiswa FKH tapi disebut sebagai mahasiswa TPB. Selama dua semseter mahasiswa TPB akan tinggal di asrama yang dikenal dengan asrama TPB. Asrama mahasiswa(putra) dan mahasiswai(putri) dipisahkan. Untuk asrama putera disebut Astra dan asrama putri disebut Astri. Jadi pada tahun pertama mahasiswa IPB harus melewati dua masa pada satu waktu, yaitu masa TPB dan masa asrama.
Masa TPB sendiri ditujukan untuk menyamakan tingkat dan kualitas  pendidikan mahasiswa. Kualitas pendidikan SMA sutu daerah tentu tidak sama dengan SMA di daerah lainnya. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut seperti kurangya sumber daya guru dan juga fasilitas yang tidak memadai. IPB sendiri tidak berkeinginan untuk membedakan kemampuan dan pemahaman akan ilmu bagi mahasiswanya. TPB adalah cara yang tepat untuk mengatasi ketidaksamaaan kualitas pendidikan tersebut. Kurikulum TPB sendiri sama seperti kurikulm SMA. Mata-mata kuliah yang diajarkan juga sama dengan mata pelajaran SMA. Oleh karena itun mahasiwa IPB sering menyebut TPB sebagai kelas empat –nya SMA. Materi-materi yang ada pada mata kuliah TPB tidak jauh berbeda dengan materi-materi yang ada di SMA. Materi-materi ini akan sedikit dipersempit dan diarahkan ke materi yang mendukung pertanian.  Contohnya adalah mata kuliah Sosilogi Umum. Mata kuliah ini tetap mengajarkan materi-materi penting Sosilogi Umum seperti biasanya. Namun dalam hal pemberian kasus untuk dianalisis pasti yang berkaitan dengan yang namanya pertanian. Pertanian yang dimaksud adalah pertania dalam arti luas yang mencakup peternakan, veteriner, perikaran-perairan, kehutanan dan juga teknologi pertanian. Diharapakan selepas dari TPB pemahaman semua mahasiswa baru IPB  sama. Kesamaan ini akan menjadi dasar dalam memahami materi-materi yang sesuai jurusan atau departemen yang dipilih.
Masa-masa TPB adalah masa-masa pertukaran budaya mengingat mahasiwa-mahasiwa baru IPB tidak datang dari satu daerah saja. Semua datang dari penjuru Indonesia. Mahasiswa yang berasal dari Jawa tetap mendominasi, namun tidak sedikit juga yang berasal dari Sumatera, Sulwesi, Kalimantan dan Papua. Tidak ada masalah dengan adanya dominasi kebudayaan tersebut. Ketertukaran  budaya cukup diwakilki oleh satu orang mahasiwa saja. Satu mahasiswa ini sudah bisa menggambarkan tentang kebudayaan yang dibawa.  SeIain itu informasi yang didapatkan tidak akan jauh berbeda dengan mahasiwa lainnya dari daerah yang sama.
Masa-masa asrama sendiri adalah masa-masa penuh kebagian, begitu pernyataan sebagian besar mahasiswa IPB yang telah melewati masa-masa tersebut. Pada masa inilah mahasiswa IPB akan menceritakan jalan mereka ketika masuk IPB.  Hal yang paling mencolok adalah alasan masuk IPB dan memilih jurusan.  Jika dibandingkan hanya satu dari sepuluh mahasiwa IPB yang masuk karena benar-benar mencintai pertanian. Sembilan lainnya memilih IPB karena banyak alasan.  Ada yang yang masuk karena memperjuangkan prestige sekolahnya. Jika tidak memilih IPB  maka SMA nya tidak akan mendapatkan jatah tahun berikutnya.  Ada juga yang masuk untuk menghindari sekolahnya dari “blaclist” IPB. Isu yang beredar menyebutkan kalau sekolah-sekolah yang sudah di “blacklist” otomatis siswanya tidak bisa masuk IPB.  Alasan-alasan inilah yang menjadikan  siswa tersebut terpaksa harus memilih IPB, terkadang malah dnegan jurusan yang tidak mereka inginkan sama sekali. IPB sendiri memberlakukan aturan ketat seperti ini untuk mencegah “peng-anak tirian” pilihan. Selama ini IPB merasa selalu di nomor duakan dan dijadikan sebagai pilihan alternatif jika tidak diterima di perguruan tinggi lainnya.
Bicara memilih jurusan kebanyakan dari siswa tidak mengerti dengan jurusan yang meraka pilih. Informasi tentang Perguruan Tinggi yang ada dan bisa dipilih itu tidaklah memadai. Guru sebagai tenaga pendidik yang bertanggung jawan terhadap pendidikan siswanya  juga tidak memilki informasi yang cukup mengenai Jurusan dan Perguruan Tinggi yang ada di Indonesia. Bahkan ada juga oknum guru yang tidak peduli dengan hal ini. Akibanya jurusan yang dipilih adalah jurusan yang namanya aneh, bagus dan asing. Suatu jurusan yang baik dinilai berdasrakan namanya, bukan dari program jurusan tersebut. Sementara jurusan lain yang tidak memilki  nama  yang menarik menjadi pilihan terbawah. Jurusan-jurasan dengan nama pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan tidak menjadi priotitas. Siswa-siswa yang tidak diterima di jurusan yang mereka inginkan (jurusan pilihan pertama)  berkemungkinan diterima di jurusan yang ada di pilihan kedua. Pilihan kedua ini kadang-kadang adalah jurusan yang dipilih secara asal-asalan. Selanjutny siswa ini mau tidak mau harus memutuskan, memilih jurusan yang diterima atau mendaftar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Pilihan memilih jurusan yang diterima adalah pilihan rasional. Kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) jauh  lebih prestise dibanding kuliah di Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Faktor biaya juga menjadi alasan. Hanya orang-orang kaya yang  bisa bertahan dengan biaya kuliah mahal  di PTS. PTS sendiripun tidak menyediakan beasiswa yang cukup untuk mahasiswa yang tidak berkecukupan dalam masalah biaya.
            Kuliah di jurusan yang tidak diketahui. Itulah imbas dari pilihan yang tidak beralasan. Hanya satu dari sepuluh mahasiswa IPB yang benar-benar tau informasi tentang IPB. Sedikit sekali yang benar-benar merencankan untuk kuliah di IPB dengan jurusan yang mereka sukai. Akibat akan mengakibatkan hal yang lainnya. Pertama memilih jurusan asal-asalan akibatnya diterima di jurusan yang tidak sesuai keinginan. Kedua, Karena tidak diterima di jurusan yang sesuai keinginan kulih menjadi malas, nilai turun, dapat surat peringatan dan akhirnya DO. Banyak mahasiswa yang DO bukan karena kasus-kasus kriminal. Rata-rata alasan di DO adalah tidak bersemangat dengan jurusan yang dipilih. Tidak ada motivasi  untuk belajar, tidak melihat prospek masa depan yang cerah dari jurusan yang dipih membuat mahasiswa ini DO di semester-semester awal kuliah.
            Walaupun IPB sendiri tau kalau ketidaksukaan dengan jurusan yang dipilih adalah masalah personal, namun IPB juga tidak mau kehilangan putera-puteri terbaik bangsa hanya karena masalah ini. Ada potensi yang besar dari seorang pemuda dan potensi itu bisa memajukan bangsa Indonesisa, terutama di bidang pertanian. Putera-puteri terbaik bangsa ini hanya mengalami sedkit kegalauan dengan jurusan-jurusan yang mereka pilih . Jika diibaratkan, mereka seperti pedang yang bengkok yang sewaktu-waktu bisa patah jika tidak dluruskan lagi. IPB sebagai Perguruan Tinggi yang diberikan amanah oleh bangsa ini untuk memajukan pertanian Indonesia memilki tanggung jawab untuk meluruskan pedang yang bengkok tersesebut. Dengan segala daya dan upaya pedang ini akan lurus dan siap membabat gulma-gulma pertanian Indonesia.
            Berbagai upaya dilakukan oleh IPB . Asrama TPB merupakan salah satunya. Asrama ini bukan sekedar temapt tinggal saja. Terdapat berbagai program pembinaan seperti apel pagi, SOGA (Sosial Gathering) lorong dan beberapa program lainnya yang bertujuan untuk menumbuhkan rasa cinta akan pertanian. Terdapat juga kakak-kakak pendamping yang disebu Senior Resedent (SR) yang senantiasa membimbing mahasiswa-mahasiswa baru dalam berbagai hal. Pembibingan ini menyangkut semua hal tidak hanya terbatas pada program-program asrama. Salah satu contohnya adalah diskusi bebas. Dalam diskusi bebas ini semua topik beoleh dibicarakan dan nanti SR akan menghubungkanya dengan pertanian.  Inti dari diskusi bebas itu adalah memberikan paradigma kepada mahasiswa baru bahwa pertanian tidaklah seperti yang mereka pikirkan. SR juga akan mengatakan kalau perjuangan itu tidak harus dengan  hal-hal yang  disukai, justru dengan hal yang tidak  disukai membuat diri untuk belajar tentang hal yang dikesampingkan selama ini. SR juga memberikan pernyataan kalau kuliah di IPB adalah pilihan tepat. Apapun jurusan yang dipilih, suka atau tidak suka IPB akan menjadikan mahasiswa baru menjadi pejuang pertania, laskar pertanian Indoneseia. Artinya memperjuangkan nasib rakyat kecil, rakyat kalangan bawah yang mendominasi Indonesia ini. Jika merasa tersesat, maka tersesatnya tidak lah ke jalan yang salah tapi ke jalan yang benar.
            Penanaman nilai-nilai cinta akan pertanian, cinta akan jurusan yang dipih, cinta akan keputusan yang telah dimabil tidak hanya dilakukan oleh SR tapi juga dosen. Dosen sendiri pasti menyematkan kalau pertanian tidak seperti yang disangka mahasiwa. IPB juga tidak seperti yang disangka. Banyak orang-orang besar dulu kuliah IPB dan banyak diantara mereka dulunya adalah orang –orang yang salah jurusan juga. Intinya dosen akan mengatakan kalau merasa tersesat di IPB maka tersesatnya tidak di jalan yang salah tapi dijalan ynag benar. Mereka besar karena mengubah ketidaksukaan menjadi kecintaan.
            Begitulah cara dan nilai yang ditanamkan IPB dalam menyikapi salah jurusan. Ketidaksukaan memang menyebabkan penurunan spirit belajar dan berjuang. Lewat kerjasama semua elemen ketidaksukaan itu akan tergantikan dengan kecintaan kepada jurusan yang dipilih. Cita-cita bisa ditulis ulang, passsion bisa bentuk dan mood bisa dikontrol .  Tersesat bisa benar-benar tersesat dan tersesat yang tersesat di jalan yang benar. Tersesat di jalan yang benar itulah dampak dari adanya plihan-pilihan yang harus diambil
           


0 komentar:

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: Support@templateism.com

Our Team Memebers